Sosiologi Kelas XI SMA : Mengenal Konflik dan Kekerasan


A. Pengertian Konflik
Pengertian Umum
Konflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan yang menimbulkan ketegangan diantara yang berkonflik.

Definisi menurut ahli
1.    Robert K. Merton
Konflik sebagai perjuangan untuk memperoleh nilai, status dan kekuasaan.
2.    Soerjono Soekanto
Konflik sebagai suatu proses sosial dimana seseorang/kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawannya disertai kekerasan/ancaman.

B. Sebab Konflik/Faktor
1.    Perbedaan antar Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat/ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Misalnya dalam sebuah  ruangan kantor ada karyawan yang terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik dengan suara yang keras tetapi karyawan lain lebih menyukai bekerja dengan suasana yag tenang, sehingga kebisingan merupakan hal yang mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Perbedaan perasaan dan kebiasaan tersebut menimbulkan rasa benci dan amarah sebagai awal timbulnya konflik.
2.    Perbedaan kebudayaan
3.    Perbedaan kepentingan
4.    Perubahan sosial budaya yang terlalu cepat
5.    Perbedaan etnis
6.    Perbedaan ras
7.    Perbedaan agama

C. Bentuk Konflik
1.    Berdasarkan Sifatnya
a.    Konflik Deskrutif
Konflik ini muncul karena adanya perasaan tidak senang. Rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi  bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa, harta dan benda.
Contoh : konflik Ambon, Poso, Kupang dan Sambas.
b.    Konflik Konstruktif
Konflik yang bersifat fungsional. Konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu konsensus dari perbedaan pendapat tersebut dan menghasilkan suatu perbaikkan.
Contoh : Perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

2.    Berdasarkan sifat pelaku yang berkonflik
a.    Konflik Terbuka
Konflik yang diketahui oleh semua pihak.
Contoh : Konflik Palestiana-Israel
b.    Konflik Tertutup
Konflik yang hanya diketahui oleh orang/kelompok yang terlibat konflik.

3.    Berdasarkan posisi pelaku yang berkonflik
a.    Konflik Vertikal
Konflik antar komponen masyarakat struktur yang memiliki.
Contoh : Konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor.
b.    Konflik Horizontal
Konflik yang terjadi antara individu kelompok yang kedudukannya relatif sama.
Contoh : Konflik antar organisasi massa, anggota DPR meperdebatkan masalah rokok.
c.    Konflik Diagonal
Konflik yang terjadi karena adanya ketidak alokasi sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrem.
Contoh : Konflik Aceh

4.    Berdasarkan konsentrasi aktivitas manusia dan masyarakat
a.    Konflik Sosial
Konflik ini terjadi karena adanya provokasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab
Terbagi menjadi :
1. Konflik Sosial Vertikal, Konflik yang terjadi antara masyatakat dan negara.
Contoh : Kemarahan massa yang berujung pada peristiwa Tri Sakti (12 Mei 1998)
2. Konflik Sosial Horizontal, Konflik yang terjadi antara etnis, suku, golongan atau antar kelompok masyarakat.
Contoh : Kelompok yang terjadi di Ambon
b.    Konflik Politik
Konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan.
Contoh : Konflik yang terjadi antar pengikut parpol
c.    Konflik Ekonomi
Konflik yang terjadi akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik.
Contoh : Konflik antar pengusaha ketika melakukan tender
d.    Konflik Budaya
Konflik yang terjadi adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.
Contoh : Adanya perbedaan pendapat antar kelompok dalam menafsirkan RUU anti pornografi dan perno aksi
e.    Konflik Ideologi
Konflik untuk paham yang diyakini oleh seseorang/sekelompok orang.
Contoh : konflik pada saat G30S/PKI

5.    Berdasarkan cara pengelolaannya
a.    Konflik inter individu
Tipe yang paling erat kaitannya dengan emosi individu hingga  tingkat keresahan yang peling tinggi.
Konflik dapat muncul dari 2 penyebab yaitu:
1.    Karena kelebihan beban (Role overloads).
2.    Karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan peranan (Person role in compatibilities).

Dalam kondisi pertama, seseorang mendapat “beban berlebihan” akibat status (kedudukan) yang dimiliki, sedang dalam kondisi yang kedua seseoarang memang tidak memiliki kesesuaian yang cukup untuk melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya.

Perspektif konflik interindividu mencakup 3 macam situasi alternatif
i.    Konflik Pendekatan
Seseorang harus memilih diantara 2 buah alternatif behavior yang sama-sama alternatif.
ii.    Konflik Mengindar-hindari
Seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan yang sama traktit dan tidak diinginkan.
iii.    Konflik Pendekatan-Menghindari (Multiple)
Seseorang menghadapi kemungkinan pilihan kombinasi dari konflik pendekatan-menghindari.

b.    Konflik antar Individu
Konflik yang terjadi antara seseorang dengan 1 orang atau lebih. Sifatnya kadang substansif, menyangkut perbedaan gagasan, pendapat, kepentingan, atau bersifat emosional, menyangkut perbedaan selera dan perasaan (suka/tidak suka)

Setiap orang pernah mengalami situasi konflik semcam ini. Ia banyak mewarnai tipe konflik kelompok maupun konflik organisasi. Oleh kerena itu, tipe ini berbentuk konfrontasi dengan seseorang satu/lebih. Maka konflik antar individu ini merupakan target yang perlu dikelola secara baik.

c.    Konflik antar kelompok
Konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup menusia sebagai makhluk sosial, karena mereka hidup dalam kelompok.
Contoh : Konflik antar kampung.

6.    Berdasarkan sudut psikologis sosial
Menurut Leuis A. Coser membedakan konflik atas.

a.    Konflik Realistis
Merupakan konflik yang muncul dari kekecewaan individu/kelompok terhadap sistem tuntutan yang terdapat dalam hubungan sosial.
Contoh : Konflik antar buruh dengan pemilik perusahaan atau karyawan mengadakan melawan management perusahaan.

b.    Konflik Non Realistis
Mrupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan persaingan yang antagonis (berlawanan) melainkan dari kebutuhan pihak tertentu untuk meredakan ketegangan.
Contoh : Masyarakat tradisional membalas dendam lewat ilmu ghaib dan dengan mencari “kambing hitam” yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju.

7.    Berdasarkan sudut Psikologis sosial
a.    Konflik dengan orang tua sendiri
Konflik ini muncul karena adanya tidak keserasian antara perilaku anak dan harapan orang tua/
Contoh : Seorang anak tidak mengikuti kehendak orang tuannya untuk masuk fakultas kedokteran dan ia lebih memilih fakultas hukum yang di sukainya.
b.    Konflik dengan anaknya sendiri
Konflik ini terjadi sebagai raksi atas perilaku anak yang tidak sesuai dengan orang tua, umumnya orang tua memberikan tanggapan yang berlebihan atas perlawanan/pembangakangan anak.
Contoh: Tanggapan tersebut adalah menghukum anak dan mengurangi hak-hak mereka jika anda memberi reaksi negatif terhadap orang tua tersebut maka timbul konflik.
c.    Konflik dengan Keluarga
Ialah konflik yang disebabkan karena permasalahan keluarga dalm sebuah perkembangan seseorang pada masa anak-anak dan remaja. Seseorang dapat berkonflik dengan kakak, nenek, paman/bibi yang ikut dalam proses pendidikannya (sosialisasi)
Pada masa dewasa, ia dapat berkonflik dengan mertua/keluarga suami/istri yang dipandang terlalu ikut campur berkonflik dengan saudaranya sendiri misalnya tentang pembagian warisan.
d.    Konflik dengan orang lain
Merupakan konflik yang timbul hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya seperti dengan tetangga/teman kerja konflik dengan orang lain dapat timbul karena perbedaan pendirian atau pandangan mengenai suatu hal.
e.    Konflik dengan suami/istri
Konflik yang timbul akibat berbagai kesulitan yang sihadapi dalam perkawinan, termasuk pertentangan mengenal persoalan ekonomi/mengenai cara mendidik anak
f.    Konflik di sekolah
Dapat berupa konflik akibat tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak lulus ujian. Konflik hubungan antara guru dan murid atau konflik tentang kedudukan diantara teman sebaya kelas.
g.    Konflik dalam pemilihan pekerjaan
Konflik dalam pekerjaan dapat berupa konflik yang timbul dari pekerjaan itu sendiri, seperti pekerjaan yang membosankan/terlalu berat, konflik ini juga dapat berhubungan dengan waktu kerja. Keuangan dan konflik dalam hubungan antar teman kerja.
h.    Konflik Agama
Konflik ini umumnya berhubungan dengan pertanyaan mengenai hakekat dan tujuan hidup, aturan dan perilaku yang bertentangan dengan agama pindah agama dan penikahan beda agama.
i.    Konflik pribadi
Konflik ini timbul karena minat yang berlawanan tidak ada keuletan, tidak ada kemampuan untuk mengembangkan diri, serta tidak adanya semangat hidup.

D. Dampak Konflik
1.    Dampak Negatif Konflik
a)    Dampak Langsung
Menimbulkan keretakan hubungan antar individu/kelompok dengan individu/kelompok lainnya.
Adanya perubahan kepribadian seseorang. Seperti selalu memunculkan rasa curiga, rasa benci dan akhirnya dapat berubah menjadi tindak kekerasan.
Hancurnya harta benda dan korban jiwa jika konflik tersebut berubah menjadi tindak kekerasan.
Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan.
Pendidikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana pendidikan.
Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah.
b)    Dampak Tidak Langsung
Dampak yang dirasakan oleh pihak yang terlibat langsung dalam sebuah konflik.
Contoh : Agresi Israel yang dilakukan kepada pejuang hizbullah di Labanon akan membawa dampak pada kenaikan harga minyak dunia yang akan merambat pada kenaikan harga barang di pasaran. Hal ini akan dirasakan juga oleh masyarakat kita.

2.    Dampak Positif Konflik
Meningkatkan solidaritas sesama  anggota kelompok (ingroup solidariti)
Munculnya pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situaasi konflik
Membantu menghidupkan kembali norma lama dan menciptakan norma baru
Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekutan seimbang. Misal adanya kesadaran pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali karena dirasakan bahwa konflik berlarut tidak membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.




KEKERASAN
A. Pengertian Kekerasan
Kekerasan dapat didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cidera/matinya orang lain/menyebabkan kerusakan fisik/barang orang lain.
Kekerasan adalah alat dari konflik untuk mencapai tujuan dan merupakan akhir dari konflik tersebut.
Contoh : Tindakan membiarkan seorang pencuri dihakimi massa.

B. Teori Kekerasan
1.    Teori faktor individual
Perilaku kekerasan berawal dari perilaku individu agresivitas perilaku  seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan baik yang dilakukan oleh individu maupun kolektif secara spontan maupun direncanakan
Faktor penyebab perilaku kekerasan
Faktor pribadi
Berhubungan dengan kelainan jiwa seperti psikopat, psikoneurosis, frustasi kronis, serta pengaruh obat bius
Faktor sosial
Konflik rumah tangga, konflik budaya, dan media massa

2.    Teori faktor kelompok
Individu cenderung membentuk kelompok dengan mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama, atau etnis. Identitas kelompok yang cenderung dibawa ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Benturan antara identitas kelompok yang berbeda sering menjadi penyebab kekerasan.
Contoh:
Dalam pertandingan sepak bola antara 2 klub supporter
Kekerasan berbau rasial terjadi di Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Indonesia pada masa orde baru, yaitu kekerasan terhadap kelompok etnis Tiong hoa dan pribumi.

3.    Teori dinamika kelompok
Kekerasan timbul karena adanya deprivasi relatif (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam kelompok/masyarakat.
Contoh:
Masuknya perusahaan internasional ke wilayah pedalaman Papua membawa berbagai teknologi, perilaku, hingga tata nilai yang berbeda menyebabkan masyarakat setempat merasa terasing dan timbulah deprivasi relatif (kehilangan rasa memiliki) sehingga berakhir dengan perlawanan kekuasaan.

C. Upaya penanggulangan/pengendalian
1.    Akomodasi
Beberapa definisi Akomodasi
Usaha untuk meredakan pertentangan agar terciptanya keseimbangan.
Suatu proses penyelesaian konflik ke arah tercapainya kesepakatan sementara yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang tengah bersengketa.
Suatu proses dalam hubungan sosialyang mengarahkan kepada adaptasi sehingga individu/kelompok terjadi hubungan saling menyesuaikan untuk mengatasi ketegangan.

Tujuan Akomodasi
Menghasilkan sintetis/titik temu antara beberapa pendapat yang berbeda agar menghasilkan suatu pola baru.
Mencegah terjadinya pertentangan untuk sementara.
Mengadakan kerjasama atau kelompok sosial yang terpisah akibat faktor sosial spikologis/.kebudayaan
Contoh :
Kerjasama antar individu beda kasta
Mengusahakan peleburan/asimilasi antar kelompok sosial yang terpisah, misalnya melalui perkawinan (amalgamasi).

Bentuk-bentuk Akomodasi
a.    Koersi, yaitu bentuk akomodasi yang prosesnya melalui paksaan secara fisik maupun psikologis, contoh: penjajahan/perbudakan
b.    Kompromi, yaitu bentuk akomodasi ketika pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian
c.    Abitrase (pewasitan), yaitu cara untuk mencapai kompromi dengan bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak.
d.    Mediasi, yaitu cara untuk mencapai kompromi dimana kedudukan pihak ketiga hanya sebagai moderator (penasehat), misal: indonesia menjadi moderator bagi terwujudnya perdamaian antara korsel dan korut
e.    Konsilasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang bertikai untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi, contoh: wakil buruh dan wakil perusahaan agar saling mengungkapkan keinginan mereka demi tercipyanya negosiasi.
f.    Toleransi, terjadi tanpa persetujuan formal dan toleransi timbul secara tidak sadar dan spintan akibat reaksi alamiah individu atau kelompok yang ingin menghindari perselisihan, contoh: ketika kel umat beragama sedang beribadah, umat yang beragama lain tidak boleh membuat keributan.
g.    Stalemate, ketika kedua belah pihak memiliki kekuatan yang seimbang, contoh perselisihan antara as dan iran terikat isu nuklir.
h.    Ajudikasi, menyelesaikan masalah melalui pengadilan
i.    Segregasi, saling menghindari untuk mengurangi ketegangan
j.    Eliminasi, pengunduran diri dari konflik karena mengalah
k.    Subjugation/domination, pihak yang kuat menindas yang lemah.
l.    Keputusan mayoritas, voting
m.    Minority consent, kemenangan kel mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh kel minoritas.
n.    Konversi, penyelesaian konflik
o.    Genjatan senjata, penundaan permusuhan dalam jangka waktu tertentu
p.    Rekonsilasi, upaya komplomistis yang ditempuh untuk mengakomodasi 2 kepentingan yang berbeda, bertujuan untuk memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula dan menyelesaikan perbedaan.
q.    Integrasi, mendiskusikan. Menelah dan mempertimbangkan kembali pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
r.    Kolaborasi, upaya penyelesaian konflik melalui pemecahan, sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kelas yang sama perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lain.

2.    Dengan cara manajemen konflik
a.    Gaya manajemen konflik
Gaya pendekatan seseorang/kelompok dalam menghadapi sotuasi konflik dapat ddilaksanakan sehubungan dengan tekanan relatif atas apa yang cooperatifness dan assertiveness
Cooperativeness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok lain.
Assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat sendiri.

5 gaya manajemen konflik:

1)    Tindakan menghindari
Bersikap tidak kooperatid dan tidak asertif, menarik diri dari situasi yang berkembang dan atau bersikap netral dalam segala macam situasi.
2)    Kompetisi/Komando otoritatif
Bersikap tidak kooperatif, tetapi asertif, bekerja dengan cara menentang keinginan pihak lain. Berjuang untuk mendominasi dalam situasi menang/kalah dan atau memastikan segala sesuatu agar sesuai dengan kesimpulan tertentu, dengan menggunakan kekuasaan yang ada.
3)    Akomodasi/meredakan
Bersikap kooperatif tetapi tidak asertif, membiarkan keinginan pihak lain menonjol. Meretakan perbedaan guna mempertahankan harmoni yang diusahakan secara buatan.
4)    Kompromis
Bersikapcukup kooperatif dan asertif dan intesitas yang cukup bekerja menuju ke arah pemuasan pihak yang berkepentingan mengupayakan tawar-menawar untuk mencapai pemecahan yang dapat diterima kedua belah pihak meskipun tidak sampai tingkat optimal, tak seorang pun merasa bahwa yang bersangkutan menang/kalah secara mutlak.
5)    Kolaborasi (kerjasama)/pemecahan masalah
Bersikap kooperatif maupun asertif, berusaha untuk mencapai kepuasan bagi pihak yang berkepentingan dengan jalan bekerja melalui perbedaan yang ada mencari, dan memecahkan masalah hingga setiap individu/kelompok mencapai keuntungan masing-masing sesuai dengan harapannya.

b.    Hasil manajemen konflik
1)    Konflik kalah-kalah
  • Terjadi apabila tidak seorangpun diantara yang terlibat mencapai tujuan yang sebenarnya, dan alasan/faktor penyebab konflik tidak mengalami perubahan.
  • Sikap menghindari merupakan sebuah bentuk ekstrem tiadanya perhatian (non-attention) orang berpura-pura seakan-akan konflik tidak ada dan mereka hanya berharap bahwa konflik tersebut akan terselesaikandengan sendirinya.
2)    Konflik menang-kalah
Salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan mengorbankan keinginan pihak lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya persaingan, dimana orang mencapai kemenangan melalui kekuatan, keterampilan yang superior atau karena unsur dominasi.
3)    Konflik menang-menang
Bila dilaksanakan dengan jalan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi. Kondisi menang-menang meniadakan alasan untuk melanjutkan atau menimbulkan kembali konflik yang ada karena tidak ada hal yang di hindari ataupun di tekankan.
Perhatikan dua contoh pernyataan berikut.
i.    Saya menginginkan sebuah pemecahan yang sekaligus mencapai tujuan saudara dan tujuan saya sendiri, dan yang dapat diterima oleh kita bersama
ii.    Adalah tanggung jawab bersama. kita untuk bersikap terbuka dan jujur tentang fakta, pendapat, dan perasaan.

3.    Penyelesaian/pengendalian konflik melalui alternatif lain.
a.    Perdamaian melalui kekuatan
Para pendukung pendekatan ini berpendapat bahwa sistem militer dan polisi harus memiliki persenjataan paling canggih, serta hukum-hukum yang tegas harus ditetapkan.
b.    Pola kontrol hukum
Penegakan hukum secara efektif yang digabungkan dengan program sosial untuk menghadapi para pelanggar hukum di tingkat lokal, serta kerangka hukum untuk melindungi HAM (mempertahankan aturan hukum)
c.    Keamanan bersama dan konflik tanpa kekerasan
Pendekatan ini menuntut adanya konstruksi institusi yang bisa menghambat munculnya sebab-sebab kekerasan, dan tidak menekankan pada organisasi agen kontrol sosial, seperti militer dan kepolisian. Pendekatan ini menekankan pada kerjasama dan konflik tanpa kekerasan.

Adapun asumsi mendasar mengenai pendekatan ini adalah sebagai berikut:
  1. Tidak ada manusia yang akan aman sampai setiap orang merasa aman.
  2. Kekuatan diperlukan untuk mempertahankan perdamaian.
  3. Penyelesaian masalah dengan cara kekerasan hanya akan menghasilkan kepuasan sementara.
  4. Kekerasan struktur bisa menjadi, desktruktif seperti bentuk kekerasan lain.
  5. Konflik tidak harus menjadi suatu pemenangan bagi salah satu pihak dan kekalahan pada pihak lain.
  6. Perjuangan tanpa kekerasan secara moral dan strategi lebih bernilai dari perjuangan dengan kekerasan.

4.    Penyelesaian/pengendalian konflik melalui Integrasi sosial
Integrasi adalah pembaharuan sesuatu yang terbentuk hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. (KBBI)

Syarat terwujudnya Integrasi Sosial adalah sebagai berikut:
a.    Anggota masyarakat merasa berhasil saling mengisi kebutuhan diantara mereka.
b.    Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (konsensus) bersama mengenai norma dan nilai sosial yang dilestarikan dan dijadikan pedoman hal-hal yang dilarang menurut kebudayaan.
c.    Norma dan nilai sosial itu berlaku cukup lama. Tidak mudah berubah, dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh anggota masyarakat.

Integrasi Sosial dapat berlangsung cepat/lambat disebabkan
a.    Homogenitas kelompok
Dalam kelompok/masyarakat yang tingkat kemajemukannya rendah, integrasi sosial akan mudah dicapai. Sebaliknya, dalam kelompok/masyarakat majemuk, integrasi sosial akan sulit dicapai dan memakan waktu yang sangat lama.
b.    Besar kecilnya kelompok
Dalam kelompok yang kecil, tingkat kemajemukan anggotanya relatif rendah hingga integrasi sosialnya lebihmudah tercapai. Sebaliknya dalam kelompok besar tingkat kemajemukannya relatif tinggi, sehingga integrasi sosial akan lebih sulit tercapai.
c.    Mobilitas geografis
Anggota kelompok yang baru datang tentu harus menyesuaikan diri dengan identitas masyarakat yang ditujunya (masyarakat asal/penduduk asli) semakin sering anggota masyarakat datang dan pergi semakin sulit proses integrasi sosial.
d.    Efektivitas komunikasi
Semakin efektif komunikasi berlangsung semakin cepat pula integrasi masyarakat tercapai dan pula integrasi masyarakat tercapai dan semakin tidak efektif komunikasi yang berlangsung antar anggota masyarakat, semakin lambat dan sulit pila integrasi sosialnya terwujud.

Faktor pendorong integrasi sosial
a.    Toleransi terhadap kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda
b.    Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi bagi berbagai golongan dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, artinya setiap individu mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai kedudukan tertentu atas dasar kemampuan dan jasanya.
c.    Sikap saling menghargai

Post a Comment

0 Comments